Nasi Kotak Solo dan Menulis

Rasanya manis. Semanis mbak-mbak yang bagikan kotak nasi. Mungkin makanan khas Solo rasanya memang cenderung manis. Tak cocok memang dengan lidah orang pantura macam aku. Heuheu Kamis ini, aku bersama dengan teman dan satu siswaku melancong sampai Solo. Ngapain di Solo? Kami menghadiri acara Festival Literasi Nasional 2020 di Graha Wisata Niaga, Laweyan-Solo. Ko melancong? Iya, sebab semua hal tentang belajar berawal dari sebuah perjalanan. Perjalanan ke Solo mempertemukanku dengan orang-orang luar biasa di umur yang sangat muda. Ku bilang muda sebab mereka rata-rata seumuran denganku. Ada Rona Mentari, misal. Aku seumurannya dengannya, tapi jalanku dengannya tak sama. Rona bercita-cita ingin jadi pendongeng sejak kelas 3 SD sama denganku. Bedanya, dia berjuang untuk menjadi pendongeng, aku tidak. Dia jadi pendongeng keliling dunia, aku tidak. Miris. Tapi jelas pantas. Sebab usaha kami berbeda. Dia punya kelas berdongeng, aku punya kelas untuk mendongeng. Melihat dia berbicara sebagai narasumber di hadapan peserta Festival se-Indonesia aku luluh. Dia hebat. Selain Rona, ku temui juga bang neo. Siapa yang tak kenal dengan CEO termuda se-dunia. Kupikir orang Indonesia punya banyak sekali orang hebat, aku yang biasa saja. Pulang dari ini ku punya banyak PeeR. Mana dulu yang akan dikerjakan? PeeR tentang meramu kemampuan. Jelas. :) Owya, soal nasi kotak. Nasi kuberikan sama mas-mas yang manis juga. Semanis rendang suwir yang aku makan.

Komentar